
Ibu
November 10, 2008
A
ku akan bercerita tentang seorang wanita cantik, anggun, pendiam, tidak banyak bicara (dan sejak kapan ya, orang yang pendiam banyak bicara J ), ibuku,…
Panggilan sayangku untuknya Nyimo,…
Sudah sejak dulu Nyimo merangkap fungsi sebagai sahabat terbaikku…
Aku bercerita semua hal pada Ibu, cerita di sekolah waktu zaman sekolah dulu, kekhawatiran ketika mulai muncul jerawat, ketika aku mulai tertarik sama ehem (censored), sekarang setelah kerja, aku cerita semua teman-temanku, keadaan kantorku, masalahku, mimpi-mimpiku,…semuanya,…
Meski kami sekarang berbeda kota, hampir setiap hari aku menelpon Ibu,…
E-buddy pun sering kami aktifkan untuk bisa sekedar bersapa di sela waktu bekerja….
Kami bertukar cerita tentang apa saja yang kami lewati sepanjang hari,…
Tentang penjual makanan yang sekarang tidak boleh lagi berjualan di samping kantor, yang membuat budget makan siang jadi meningkat karena seringkali harus ke food court, tentang bazaar sepatu di gedung sebelah, tentang orang-orang yang sikapnya ngga pake manner yang bikin aku berang banget, tentang Mba Yana yang baik hati, tentang satpam-satpam yang jadi cs-ku karena mereka sering menemani kalo aku lembur, tentang Jakarta yang panas, …
Atau cerita lain, aku akan segera menelepon atau mengirim sms ketika muncul Slank atau //Rif di TV, karena Ibu adalah penggemar berat drummer Slank, Bimbim, dan vokalis //Rif, Andi….
Kami berbagi banyak hal, banyak sekali,…
Ibu untukku seperti bintang, yang fisiknya tidak selalu terlihat, tapi selalu ada…
Aku dulu sempat menilai Ibu sebagai orang yang “lemah”, karena Ibu ngga pernah marah,…
Kalo ibu sedang menghadapi sesuatu yang kurang berkenan, Ibu Cuma diam setelah mengingatkan dengan santun,…lalu jika setelah diberitahu orang tersebut tidak berubah, Ibu hanya akan diam,…
Mmh, ngga banget,…
Bukan sikap yang aku suka, karena menurutku itu sesuatu yang kurang “berani’,…masa ada sesuatu yang salah kita “diamkan”?
Jika ada sesuatu yang salah, I would then surely be “exploding”, akan marah, meminta, mengejar, menuntut, jika ada sesuatu yang menurutku salah,…
I have strong reason, toh ngga mungkin aku meminta sesuatu yang salah, justru aku “bertindak”, karena ada sesuatu yang salah yang harus aku betulkan….
So, I am correct!
Ketika aku bercerita lagi pada Ibu, tentang “ketidakbenaran” yang aku hadapi,….
“Ngga bisa kaya gitu dong Bu, enak aja dia kaya gitu. Dikasih tau ngga mau, yang Tami minta juga bukan sesuatu yang salah, udah tau dia yang salah, dikasih tau yang bener ngga mau denger. Maunya apa sih Bu?”
Dengan meledak-ledak, tak jarang dengan berurai air mata aku bercerita sepenuh tenaga pada Ibu,…
Ibu “hanya” akan mendengarkan dengan sabar, lalu dengan lembut berujar “Kebenaran, pada praktisnya bisa diterjemahkan berbeda-beda. Kalo Tami merasa hanya Tami yang benar, Ibu takut Tami sombong”….
I am stunned,…
Dari ratusan kata yang aku bilang, Ibu hanya menimpali dengan serangkaian kalimat pendek, tapi beribu makna,…
Kali lain, ketika aku merasa ketidakadilan itu datang lagi, aku akan segera menelepon Ibu untuk meluapkan apa yang bergejolak di dalam ”Ibu, Tami ngga suka,….ini salah, kenapa Tami yang mesti ngerti? Enak aja, dia yang salah, kok Tami yang mesti ngerti?…
Lalu ibu akan berkata ”Jangan menuntut orang lain untuk berubah, biarkan saja orang lain seperti mereka apa adanya, yang penting kita benar, ketika kita benar akan lebih mudah untuk kita mengkoreksi orang lain. Jangan sampai kita meminta orang lain berubah, ternyata kita masih melakukan kesalahan yang sama. Ketika tangan kita menunjuk kesalahan orang lain, perhatikan bahwa tiga jari menunjuk pada diri kita sendiri”
Aku Cuma bisa diam,….
Sikap ”lemah” yang selama ini Ibu jalani, ternyata tidak cukup kuat aku melakukannya,…
Untuk bersabar, ikhlas lalu mengembalikan semuanya pada-Nya…
Aku tidak cukup kuat untuk bisa ”selemah” Ibu,…
Untuk mengalahkan ego, yang sudah sering aku lihat membawa kebaikan untuk banyak pihak,….
Bersikap tenang, sabar, memandang & berpikir dengan jernih, untuk lalu bertindak tepat, tidak dengan meledak-ledak,…
Ketika aku mencoba untuk bersikap seperti Ibu, yang ternyata sulit luar biasa, lalu aku bertanya ”Bu, ko Ibu bisa sih sabar?”
Ibu lalu berkata ”Memang Tami kira Ibu ngga kesal ketika hal itu terjadi, tapi kalo Ibu marah meledak-ledak, itu tidak akan menyelesaikan masalah dan hanya akan membuat masalah menjadi lebih besar. Jadi Ibu lakukan yang ketika itu bisa lakukan, lalu Ibu berdoa agar Ibu diberi kekuatan dan berdoa agar hatinya terbuka dan diluluhkan”
Ibu pun lalu mengirimkan doa meminta kelembutan hati, agar hati bisa terbuka pada kebenaran yang sebenarnya.
Ibu memang luar biasa.
Ngga akan cukup satu tulisan untuk menunjukkan rasa sayang & hormatku pada Ibu.
Semoga ketika aku diamanahi suami & anak-anak nanti, aku akan bisa menjadi pelabuhan yang meneduhkan untuk mereka, seperti apa yang selalu Ibu lakukan untuk kami. Amin…doain Tami ya Bu,…
Semoga akan ada sedikit yang Tami bisa lakukan untuk membalas semua kebaikan Ibu,…
Tami sayang Ibu, banget,…
terima kasih sudah mengingatkan..
pantesan ibuku suka nyuruh sabar , jangan marah..
terima kasih. terharu bacanya..
tujuan utamanya sih mengingatkan diri sendiri Mas, secara saya orangnya suka marah-marah gitu
Semoga kita bisa jadi lebih baik dari hari ke hari, amiiin
Thank u for commenting
iya terima kasih kembali.
saya juga impulsif soalnya heu.. tapi sekarang mah mendingan.
jadi sekarang klo ada impuls2 negatif terus (berusaha) sabar-sabar… !!
okeh lah, hidup perbaikan!
inget2 terus pesen ibu teh.. dan sebisa mungkin dilatih sejak sekarang. klo berhasil diamalkan, insyaAllah akan sangat SANGAT BERMANFAAT stelah menikah nanti.. seriuss.
kikikik,…ada yang curhat nih kayanya
Insya Allah neng, saya akan giat berlatih,…
tapi ko susah ya Dil,….
terus ya, kalo ibu tau ada yang ngomong “susah” ibu bakal ngomong gini “Jangan bilang susah:)”
bersama kita bisa ya Dil?
girl power!
hah,
ya ampun.
teteh kayak sy bgt, tukang ngomel… ho. betul2, rajin2 ngobrol sama ibu biar dapet banyak ‘ilmu’ hehehehe
Kita bikin club ngomel aja gimana nih Tiffa?

yang paling jago ngomel, jadi ketua
nanti biar saling ngingetin buat sabar
I am in lah,…