h1

Tycoon

June 17, 2012

Saya seding sedih,…

Salah satu orang yang saya sayangi, sedang menghadapi fase yang sulit dalam hidupnya. Fase cukup berat, yang hanya dengan pertolongan Allah saya pernah bisa melaluinya. Sejauh ini, hanya berbagai saran yang bisa saya berikan saja selain doa. Semoga Allah memudahkanmu sayang. Allah sedang menyiapkanmu menjadi seseorang yang lebih baik. Allah sedang menempatkanmu dalam proses kepompong menjadi kupu-kupu. Setelah ini, kamu akan menjadi kupu-kupu yang kuat dan cantik, menambah kecantikan yang sudah kamu miliki dari dulu. Allahumma Aamiiin.

Menulis tentang kesulitan, saya tiba-tiba teringat pengalaman saya beberapa tahun lalu. Saya masih di kantor saya yang sebelumnya. Biasanya rute yang saya ambil dari rumah adalah menaiki kereta api Depok – Tanah Abang, lalu turun di stasiun sudirman, disambung dengan 5 menit perjalanan dengan metro mini, sampailah saya di kantor. Hari itu, saya lupa kenapa, saya tidak biasanya turun di stasiun Tebet, yang lalu dilanjutkan menaiki mikrolet melewati sepanjang jalan Casablanca, jalan sedikit dari tempat turun mikrolet, saya akan juga sampai di kantor.

Saya kebetulan duduk di depan pintu mikrolet, sehingga bisa melihat dengan jelas kondisi di sekitar. Ketika mendekati daerah Sampoerna Strategic Square, dari dalam mikrolet saya melihat ada seorang laki-laki menarik gerobak butut rongsokan. Hal yang amat biasa, kecuali bahwa terdapat kontras yang memilukan antara megahnya keadaan sekitar daerah perkantoran dibandingkan dengan aroma kumuh yang dibawa gerobak dan penarik gerobaknya. Pemandangan berubah menarik, ketika saya menyadari bahwa penarik gerobak tersebut melilitkan kain, atau sinjang dalam bahasa Sunda, untuk menggendong seorang anak yang sedang tertidur pulas dalam gendongannya. Oh bukan, penarik gerobak tersebut bukan seorang bapak ternyata, penarik gerobak perkasa tersebut adalah ternyata seorang wanita. Topi laki-laki dan hitam kulit, menyembunyikan ke-perempuanan-nan-nya. Pemandangan semakin menarik dan juga menarik air mata saya, melihat bagaimana ibu tersebut, sekuat tenaga menarik gerobak dengan menggendong anak, tergambar dari urat-urat wajahnya yang menegang, di tengah teriknya matahari Jakarta dengan jalan yang menanjak. Saya seperti tersedot keluar, dan yang saya sadari berikutnya, saya telah turun dari mikrolet meski saya belum sampai tujuan.

Mikrolet yang saya tumpangi -tentu saja- lebih cepat dan telah melewati ibu penarik gerobak tersebut beberapa puluh meter di depannya. Ketika saya berada dalam jarak pandang yang dekat, masih terlihat jelas, urat-urat muka yang menegang, karena berusaha sekuat tenaga menarik beban yang ada. Saya masih jadi ibu baru saat itu, Adrin kalo tidak salah usianya baru beberapa bulan. Saya yang biasanya menggendong Adrin memakai kain hanya sambil membawa piring untuk menyuapi atau seringnya memang hanya fokus menggendong Adrin, sering mengalami sakit bahu karena memang pegal. Can’t imagine seperti apa rasanya then, menggendong anak dengan cara seperti yang harus ibu itu lalui.

Turun dari mikrolet, tanpa saya bisa tahan saya sudah menangis sedih. Iya, saya memang melo, :D, mudah tersentuh dengan kesedihan yang ada di sekitar saya. Sambil mengusap air mata dan menyembunyikan tangis, saya mencoba mencari uang di dompet saya. Sayangnya tak banyak uang yang saya bawa di dompet hari itu, dan tidak ada ATM di sekitar tempat itu. Akhirnya saya dekati saja Ibu itu yang ternyata sedang sesaat berhenti melepas lelah. Saya mencoba berbicara dengan Ibu tersebut. Ternyata Ibu dan anak tersebut akan menuju tanah abang untuk mencari barang rongsokan yang akan dijual kembali, dan akan kembali ke tempatnya di sekitar Kampung Melayu, jarak yang sangat jauh ditempuh dengan berjalan, bolak balik, setiap hari 😦

Ketika saya melanjutkan bertanya, Ibu yang berasal dari Indramayu itu suaminya sudah meninggal, dan dia tidak memiliki kesempatan untuk bekerja di kampungnya, itulah mengapa sebabnya ibu itu tetap bertahan di Jakarta. Pertanyaan terakhir yang masih saya ingat adalah, “Bu, kok anaknya ngga ditidurin aja di gerobak? kan gerobaknya masih kosong?Ibu juga ngga terlalu cape dan susah narik gerobak jadinya?”, saat itu ibu tersebut memang menuju ke arah pergi mencari barang rongsokan sehingga gerobaknya masih kosong. Lalu ibu itu menjawab “kasihan anak saya Mba, di gerobak kan kotor, bau, saya khawatir anak saya nanti kenapa-kenapa”. Saya ingin menangis lebih lagi ketika mendengarnya 😦 Ibu itu tidak terlihat lagi kumuh untuk saya, cintanya yang begitu besar untuk anaknya, membuatnya berkilau di mata saya. Jika saya ada di posisi ibu itu, belum tentu saya bisa kuat menggendong anak sejauh itu. Saya mungkin bisa saja, membersihkan gerobak semampunya dan lalu meletakkan anak di gerobak. Kekuatan cinta seorang ibu yang luar biasa.

Hari itu saya mendapat banyak pelajaran. Saya minta maaf pada atasan karena sampai sedikit telat ke kantor. Saya ceritakan apa yang saya alami mengapa saya terlambat sampai di kantor. Siangnya, saya juga mengirim bbm pada teman saya Lily, menceritakan apa yang saya alami dengan tambahan kata “kita harus kaya Ly, terlalu banyak orang miskin yang harus ditolong”.

Saya masih memiliki cita-cita itu sampai sekarang. Saya sedang juga memperjuangkannya, meski mungkin belum banyak hasil yang saya hasilkan, minimal saya mencoba untuk tidak membuat diri saya menjadi beban untuk orang lain. Tentu saja tidak harus menunggu menjadi kaya untuk bisa menolong orang, yang kaya pun mungkin memiliki arti yang relatif. Saya hanya membayangkan, jika saya kaya secara harta – yang tentu saja juga, kekayaan jiwa saya seharusnya lebih banyak dari kaya materi- saya akan bisa menolong lebih banyak orang.

Saya berandai-andai, seandainya saya bisa memberikan modal yang cukup untuk ibu itu memulai usaha. Mungkin ibu itu bisa memberikan penghidupan yang lebih layak untuk anaknya. Anak itu akan memiliki masa kecil yang sehat. “penuh” dan menjadi orang dewasa yang “penuh” juga kelak. Anak itu bisa menjadi orang dewasa yang bahagia dan berguna untuk orang lain.

Semoga saya dimampukan untuk menolong orang yang membutuhkan, semoga saya bisa berguna untuk membuat hidup sebanyak mungkin orang lebih baik, Insya Allah, aamiiiin.

Buat kamu:

Teteh sayang kamu, banyak banget. There’s nothing more I can do for you now, but praying, love. I’d do my best untuk bisa membantu orang lain, sehingga semoga Allah berkenan menjawab doa Teteh. Jika saat itu tiba, Teteh akan berdoa, meminta dengan sangat agar Allah meringankan, menguatkan dan memberikan jalan untukmu. Insya Allah saat itu akan segera tiba. Semangat terus ya. Peluk dari sini. La Tahzan, Innallaha Ma’ana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: